Bandung Buat Konsep Sebagai Kota Sepeda
Konsep "Bandung sepeda lipat murah Kota Sepeda" mulai direalisasikan di awal 2017 ini. Sebanyak 350 sepeda dengan 30 titik stasiun siap dioperasikan melalui bike sharing (penyewaan sepeda).
"Pak Wali (Wali Kota Bandung Ridwan Kamil) inginnya murah (disewakan). Jadi nanti operator kita biayai, sewanya dibikin murah. Dalam kajian Rp 3.000 per jam," ujar Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandung Didi Ruswandi di Bandung, Selasa 3 Januari 2017.
Mekanisme penyewaan sepeda gunung polygon murah akan menggunakan smartcard (kartu pintar). Berbeda dengan kartu pintar yang digunakan untuk Trans Metro Bandung, kartu pintar sepeda sewa akan mendata identitas pemilik. Dengan identitas yang jelas, potensi kehilangan sepeda bisa diantisipasi. "Nanti ada tempat yang menyediakan kartu pintar. Tetapi apakah pembayarannya pada awal, akhir, atau keduanya dengan tap in tap out, kita belum sampai ke sana," kata Didi.
Sebenarnya, menurut Didi, saat ini uji coba sudah bisa dilakukan. Namun, Didi mengatakan, uji coba akan menunggu lelang operator. Lelang tersebut juga menunggu kepastian pergantian kepala dinas seiring perombakan susunan organisasi tata kerja 2017.
Baca juga ; sepeda olahraga
Saat ini, lanjut Didi, 30 stasiun sepeda sudah siap di pusat kota. Beberapa di antaranya di depan Masjid Al Ukhuwah Jalan Wastukancana dan depan Taman Pramuka. Pengadaan 350 sepeda dengan 30 stasiun adalah pengadaan tahap pertama dari target 100 stasiun. "Di masterplan ada 100 titik, ada 70 titik lagi yang belum. Akan dilelangkan kemudian," kata dia.
Didi menambahkan, 350 sepeda tersebut didatangkan dari Tiongkok dengan kategori unisex sehingga bisa digunakan lelaki atau perempuan. Didi mengatakan, perusahaan sepeda dalam negeri yakni United Bogor, tidak sanggup menyediakan sejumlah itu dalam waktu yang terbatas.
Terkait wacana investasi perusahaan dari Singapura, Didi mengatakan hal itu belum bisa terealisasi. Pasalnya, pengembalian modal dari harga sewa tidak bisa menutup modal investasi.
0コメント